I. PENDAHULUAN
“Ketika yang internal bertentangan dengan yang eksternal, atau sebaliknya, terciptalah ‘inconsistency.’”
Kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang negatif tentang kekuasaan dan orang yang memegang kekuasaan. Ada banyak orang berpendapat bahwa kekuasaan sering menjerumuskan orang atau membutakan orang dan membuat mereka menjadi tamak, lupa diri dan egois. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memegang atau mendapat kekuasaan jatuh dalam situasi yang demikian. Dengan kata lain, tidak semua pemimpin terperangkap dalam anggapan sepihak yang bersifat negatif dan meremehkan.
“Ketika yang internal bertentangan dengan yang eksternal, atau sebaliknya, terciptalah ‘inconsistency.’”
Kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang negatif tentang kekuasaan dan orang yang memegang kekuasaan. Ada banyak orang berpendapat bahwa kekuasaan sering menjerumuskan orang atau membutakan orang dan membuat mereka menjadi tamak, lupa diri dan egois. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memegang atau mendapat kekuasaan jatuh dalam situasi yang demikian. Dengan kata lain, tidak semua pemimpin terperangkap dalam anggapan sepihak yang bersifat negatif dan meremehkan.
Ada pemimpin-pemimpin seperti Lee Kuan Yew dan Nelson Mandela yang memberikan diri seutuhnya demi kebaikan bangsa dan negaranya. Singapore telah menjadi sebuah negara metroplis yang memiliki dasar yang kokoh untuk membangun sebuah masa depan yang cerah. Hal itu disebabkan karena adanya pemimpin yang menggunakan kecerdasan hati, jiwa dan pikiran, untuk memimpin dan melayani rakyat agar keluar dari masa-masa sulit akibat kolonialisme, dan membangun sebuah bangsa yang unik dan perkasa.
Hal yang sama dilakukan oleh pemimpin besar Afrika Selatan, Nelson Mandela. Setelah lama hidup dalam tekanan di bawah pemerintahan aparthide, Nelson Mandela muncul dengan suatu pendekatan baru yang membangkitkan semangat dan harapan baru bagi bangsa dan rakyatnya. Hal apa yang menjadikan orang-orang ini dan para pemimpin besar lainnya menjadi hebat dan berhasil? Selain kehebatan intelektual yang mereka miliki, kehebatan mereka disebabkan oleh hadirnya satu aspek penting dalam proses memimpin dan membimbing: kecerdasan emosional. Selain itu mereka juga memiliki komitmen dan integritas pribadi untuk bangkit dan menghadapi berbagai tantangan yang menghadang. Mereka memiliki keuletan mendalam yang membuat mereka menjadi kuat untuk berdiri sendiri, jika perlu, untuk menggerakkan orang lain agar mengenali potensi dan kemampuan pribadi mereka. Mereka pandai menyemangati orang lain dan menjaga kestabilan emosi dan kebutuhan emosional orang lain dalam proses memimpin dan membimbing.
Emosi yang cerdas bukan semata emosi hampa tanpa pertimbangan rasional. Emosi yang digunakan adalah emosi yang cerdas, emosi yang sudah dikemas dan diolah secara matang, dewasa dan seimbang. Untuk memperoleh suatu emosi yang cerdas, dibutuhkan kesadaraan yang tinggi akan apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dilakukan, siapa yang ada di sekitar kita dan mengapa mereka berada bersama kita. Kecerdasan emosi tidak tircipta secara instan melainkan melalui suatu proses panjang yang bisa jadi sangat berliku dan berat. Namun ketika seseorang memiliki kecerdasan emosi, ia akan sangat mungkin menikmati hidupnya saat demi saat. Hidup merupakan sebuah anugerah yang mestinya dinikmati dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur yang rasional dan berkualitas.
Pertanyaannya ialah: mengapa ada pemimpin yang berhasil dan menjadi hebat, sementara ada juga yang jatuh dan terpuruk dalam kegagalan yang merugikan banyak pihak? Jawabannya adalah bahwa mereka tidak memiliki ketangkasan emosional untuk memahami diri mereka dan orang lain.
Adapun kelompok kami ditugaskan untuk menggodok sebuah kasus yang berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan yang berada dalam situasi berikut:
”Sebagai seorang manager Anda memiliki beberapa anak buah. Salah satu di antaranya usia dan lama bekerjanya jauh melebihi Anda. Namun sikap bawahan Anda ini sungguh kurang disukai, baik oleh lingkungan maupun rekan kerjanya. Tolong jelaskan dan gambarkan sikap seperti apa yang seharusnya Anda lakukan untuk menegur staff Anda, dengan tidak menghilangkan norma-norma kesopanan terhadap orang yang lebih tua.”
Secara sepintas, kasus ini bisa dinilai sebagai kasus sepele yang mudah diatasi dengan metode strategis kepemimpinan modern tanpa mengenal batasan-batasan nilai dan norma yang dianut dalam suatu konteks kebudayaan tertentu. Namun jika hal ini dihadapkan pada suatu kenyataan budaya yang menjiwa, kita akan mengalami kesulitan yang nyata dan relevan.
Sesuai dengan nama kelompok kami, “Kelompok EQ”, kami ingin mendekati kasus ini secara lebih terperinci dan bijaksana, dengan menggunakan pendekatan rasional berorientasi nilai, yang lebih umum dikenal sebagai “Kecerdasan Emosional.” Kami akan mencoba mengupas secara mendalam masalah yang terjadi seputar kepemimpinan, arti kepemimpinan EQ, karakteristik kepemimpinan EQ, dan pendekatan EQ terhadap kasus yang telah disebutkan di atas.
II. PEMIMPIN MASA DEPAN VERSUS PEMIMPIN SEJATI
Ada banyak macam model kepemimpinan di sunia ini. Ada tipe kepemimpinan yang otoriter, ada yang menyatu dengan orang yang memipin, ada yang demokratis, ada yang seperti ajaran Ki Hajar Dewantara: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Belakangan ini muncul banyak teori kepemimpinan yang dilandaskan pada situasi (Situational Leadership) yang dipopulerkan oleh Hersey dan Blanchard. Di sana ada empat gaya memimpin dan empat situasi, yaitu Telling Style, Selling Style, Participating Style, serta Delegating Style. Yang terakhir merupakan bentuk pendelegasian untuk kondisi kepemimpinan bagi orang yang levelnya cukup tinggi.
Bicara mengenai teori kepemimpinan, Fred Luthans dalam bukunya “Organizational Behavior” mengatakan:
“There are several distinct theoretical bases for leadership. At first, leaders were felt to be born, not made. This so called “great man” theory of leadership implied that some individuals are born with certain traits that allow them to emerge out of any situation or period of history to become leaders. This evolved into what is now known as the ‘trait theory’ of leadership. The trait approach is mainly with identifying the personality traits of the leader.” (1992:p. 456).
Pernyataan itu menjawabi suatu pertanyaan mendasar mengenai pemimpin, apakah seorang pemimpin itu dibentuk atau dilahirkan? Pertanyaan tersebut begitu mendalam sehingga jawaban apa pun yang diberikan masih bisa dibantah dengan jawaban yang lainnya lagi. Hal ini sekaligus mengukuhkan bahwa diskusi mengenai kepemimpinan tidak akan pernah berakhir, sekaligus menegaskan bahwa membahas soal kepemimpinan itu menarik. Intinya, Luthans ingin mengatakan bahwa di antar banyak pemimpin di dunia ini pada awal mulanya adalah dilahirkan, bukan dibentuk. Hal ini didukung oleh kehadiran banyak pemimpin legendaris yang berkecenderungan dilahirkan, bukan dibentuk. Artinya pemimpin itu adalah turunan seorang pemimpin atau seorang yang terlahir sebagi seorang pemimpin (born as a leader). Contoh pemimpin semacam itu antara lain Napoleaon, Stalin, Mao, Hitler.
Setelah itu, orang mulai membicarakan sosok pemimpin yang tidak berpatokan pada bawaan alami saja, tetapi melihat tampilan yang nyata. Oleh karena itu mulai banyak sebutan pemimpin yang tegas dan bijaksana seperti Dwight Eissenhower, George Marshal dan Harry Truman.
Setelah perang dunia II, muncul tokoh yang lebih dikenal sebagai pemimpin berkarisma. Tokoh karismatik tersebut antara lain John F, Kennedy, yang dijuluki orang paling karismatik yang pernah menduduki gedung putih. Salah satu karya spektakulernya adalah menghembuskan visi bahwa kelak orang akan bisa berjalan di bulan. Sat itu visi tersebut disambut positif dengan didirikannya Badan Antartika Nasional Amerika Serikat (NASA). Kenyataannya, orang akhirnya juga bisa mendarat di bulan.
Mulai memasiki dunia modern, orang berkecenderungan untuk menggambarkan figur pemimpin yang tidak saja punya karisma, tapi juga mempunyai kepribadian dan disegani, hingga muncul nama-nama seperti Franklin, Roosevelt, Churchill, Eisenhower, Montgomery, dan Douglas Mc Arthur.
Gaya kepemimpinan setelah itu menuju tren ke arah bisnis dan kepiawaian dalam strategi di sektor ekonomi, di samping harus memperhatikan faktor sumber daya manusia, sampai muncul teori Kepemimpinan Efektif oleh Fiedlers yang disebut Contingency Model yang menonjolkan dua sisi pekerjaan: dekat ke karyawan atau dekat ke pencarian keuntungan. Hal itu dipertajam oleh teori kepemimpinan Robert Blake dan James S. Mouton yang dikenal dengan sebutan Managerial Grid Style. Teori ini memposisikan seorang pemimpin pada grid tertentu saat ini. Jika belum mendekati puncak, yaitu grid 9.9, maka seorang pemimpin harus mengasah dirinya supaya bisa mendekati sempurna. Baru kemudian muncul teori kepemimpinan situasional yang dikemukakan oleh Blanchard dan Hersey. Kepemimpinan situasional dianggap sebagai sesuatu yang bisa memnuhi tuntutan zaman karena kehidupan dalam politik dan bisnis yang semakin modern yang berarti juga semakin kompleks. Indikasinya adalah seorang pemimpin tidak perlu mempedulikan garis keturunkannya, apakah ia berasal dari turunan pemimpin atau tidak. Hal paling penting adalah bisa melengkapi data dan menempatkan diri sesuai dengan kondisi orang yang dipimpin.
Kepemimpinan padaa masa kina adalah sesuatu yang dinamis. Kepemimpinan yang mengedepankan hal yang konkret, sesuai dengan mondisi perusahaan dan orang yang dipimpin, serta praktis dalam bertindak,, sehingga muncul istilah pemimpin yang dinamis. Dalam bukunya “The Human Side of Management,” (1996: p.102), Rustom S. Davar mengatakan hal berikut:
A dynamic leadership, in whatever form that may be, is however necessary to achieve progress in any enterprise…I shall assume that if leadership is to be given a concrete shape, the following principles must be upheld:
(a) Democratic self-expression is keynote to progress.
(b) Superiority is justified only by superior judgement and action.
(c) Dynamism is the essence of survival.
(d) The most important unit I any operation is the “man.”
Kepemimpinan pada masa kini mengutamakan prinsip yang dianut dan diterapkan secara nyata serta bisa dinikmati pengikutnya secara nyata pula. Di dalamnya ada unsur demokrasi, ketegasan dalam membuat keputusan dan bertindak, dinamis dan pemberdayaan “manusia.”
Lulu, bagaimana dengan model pemimpin untuk masa yang akan datang? Apakah kepemimpinan masa yang akan datang masihtetap mempertahankan unsur karismatik, situasional atau dinamik dan nyata? Seorang pakar futuristik, Peter F. Drucker, dalam bukunya Manage The Future, menggambarkan bahwa:
“Leadership is a means.”
Kepemimpinan adalah suatu sarana. Jadi pemimpin yang masih menganggap bahwa pemimpin itu adalah dewa atau raja, akan ditinggalkan para pengikutnya. Apalagi yang menganggap bahwa pemimpin adalah jabatan yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Pemimpin seperti itu sudah pasti tidak akan disenangi pengikutnya. Fokus kepemimpinan masa depan harus lebih terarah, bisa dinamis, bisa cepat, bisa juga partisipatif, tetapi satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah bahwa ia harus cerdas dan berhati nurani. Pemimpin adalah tanggung jawab dan bukanlah suatu fasilitas. Pemimpin masa depan harus bisa dibentuk melalui suatu proses yang matang dan berkesinambungan. Pemimpin masa depan harus berani mempertahankan nilai-nilai kehidupan, mampu mengolah emosinya secara matang dan menilai orang lain dari segala segi kehidupan. Pemimpin masa depan harus cerdas secara intelektual dan emosional.
III. APA ITU KEPEMIMPINAN EQ
“Kata-kata memberikan affirmasi, tetapi menjadi jati diri memberikan pemenuhan”
Kebanyakan pemimpin diajarkan untuk menonjol secara akademik dan teknik untuk mencapai tingkat kemampuan yang menjadi syarat untuk mengola dan memipin suatu organisasi. Mereka belajar bagaimana menjadi perencana strategis yang efektif, menjadi pengelola keuangan dan agen pemasaran yang pandai dan cerdik. Apa yang paling ditekankan dalam seluruh proses persiapan menjadi pemimpin adalah pengembangan teknik “me-manage” orang lain dan menggunakan kemampuan inteleknya untuk meningkatkan kemampuan profesional seseorang.
Sangat jarang kita menemukan dalam proses persiapan seorang yang hendak menjadi pemimpin, penekanan pada aspek EQ. Banyak yang beranggapan bahwa hal ini merupakan hal yang bisa diajarkan di rumah, atau bisa dikembangkan secara pribadi. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Pekembangan EQ seseorang sangat bergantung pada pengalaman nyata seseorang dalam hidupnya. Itu berarti kita harus keluar dari diri kita sendiri, berada di tengah-tengah dunia nyata, dalam pekerjaan, berada di antara orang-orang lain, budaya dan lingkungan fisik yang lain, untuk bisa memahami dan mengeksplorasi kekuatan dan kelemahan yang kita miliki. Kecerdasan emosional bisa ditempa dan dikembangkan dalam situasi nyata. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia kerja, dan kematangan dalam menghadapi segala situasi yang kita hadapi, dengan pemahaman yang matang dan dewasa tentang diri dan orang lain. Dengan kata lain, karakter dan kompetensi kita dalam bekerjasama dengan orang lain merupakan cerminan dari tingkat kecerdasan emosional kita.
Dalam suatu penelitian ilmiah yang sistematis dan rasional, Dr. Daniel Goleman membuktikan bahwa IQ (kemampuan intelek) hanya menyumbangkan 20% dari keberhasilan seseorang, sedangkan selebihnya adalah sumbangan dari EQ (kecerdasan emosional). Pentingnya seorang pemimpin memiliki kecerdasan emosional merupakan suatu keharusan dan kewajiban. Menjadi pemimpin dengan kemampuan emosional berarti:
· Sadar akan perasaan-perasaan pribadi yang sedang terjadi.
· Mengenali dan mengambil bagian dalam perasaan orang lain.
· Mampu mengola “temperaments.”
· Tetap optimis ketika berhadapan dengan rintangan hidup.
· Secara aktif berinteraksi dengan orang lain.
Para pemimpin masa kini tidak hanya memiliki kemampuan intelek yang gemilang, melainkan harus mampu membangun kecerdasan emosional yang mapan dan berkualitas.
IV. 10 KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN EQ
Pemimpin tidak dibuat dengan posisi yang dijabat, namun pemimpin membuat posisi.
Ada karakteristik yang membuat pemimpin menonjol. Karakteristik ini mirip operasi plastik agar nyaman sehingga menjadi bagian tubuh. Orang semacam ini membuat kepemimpinan terlihat mudah. Pemimpin besar tidak harus menjadi pakar komunikasi, penjual andal, atau bahkan humoris. Mereka punya pribadi yang menyatakan, “Saya punya integritas pribadi yang tinggi dan menghargai orang dan kehidupan.” Hakekat orang ini berasal dari siapa mereka, bukan apa yang dikatakan atau dikerjakan.
Apakah Anda dilahirkan dengan kualitas kepemimpinan atau dapatkah memilikinya dengan belajar dan meniru? Kepemimpinan dapat diajarkan dan bahkan dicontoh setelah orang tahu dan kagum. Namun pemimpin besar berasal dari suatu karakter dan disiplin menjadi jenis orang yang dihargai dan dikagumi orang. Pemimpin besar punya legalitas yang jauh lebih bagus daripada yang dimiliki orang yang dipimpin. Ketrampilan pemimpin besar adalah memotivasi orang menjadi pemimpin sendiri. Pemimpin besar tidak memerlukan peristiwa yang terjadi sekali-sekali. Mungkin bisa berupa kejadian berkelanjutan di seluruh negara atau organisasi jika Anda menyadari bahwa pemimpin besar berarti terlebih dahulu menjadi orang besar. Perbedaan yang disorot adalah ada banyak pemimpin yang baik dan bahkan efektif. Namun dunia perlu kebesaran dari berbagai perspektif untuk mendorong Anda keluar dari realita sukses dan masuk ke khasanah signifikansi. Artinya, membuat bagian dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk tempat tinggal dan bekerja.
Meski banyak orang di dunia masih hidup miskin dan berjuang memenuhi kebutuhan, ada banyak orang yang lebih makmur sekarang daripada sebelumnya. Sukses seseorang memiliki berbagai tingkatan. Namun menjadi signifikan berarti lebih dari sekadar membuat perjanjian seumur hidup atau membeli perusahaan. Artinya, Anda harus berkontribusi untuk perkembangan umat manusia. Tempat terbaik melakukan hal ini adalah di tempat kerja.
Karakteristik kepemimpinan berasal dari karakter dan temperamen. Keduanya menentukan bagaimana bereaksi, apa yang dirasakan, dan bagaimana berpikir. Anda dapat mengubah kualitas kealamian dengan menyadari bahwa perubahan itu positif dan dengan memiliki kemauan dan keinginan untuk bertindak disiplin mengendalikan emosi. Anda tidak harus terpaku dengan emosi yang di luar kendali atau suasana hati yang menentukan Anda sedang tidak gembira atau cemberut. Jika Anda menyertakan kecerdasan emosional (EQ), seperti sedang dalam penalaran, Anda dapat memupuk karakteristik yang membentuk dasar-dasar kepemimpinan besar.
Penyingkapan diri
Dapat berbagi perasaan merupakan pertanda kekuatan. Sebagian pemimpin percaya bahwa ungkapan perasaan merupakan tindakan negatif dan akan membatasi keefektifan. Adalah benar bahwa membuat pengakuan pribadi atau memberikan informasi yang dapat merugikan reputasi Anda atau orang lain adalah tidak bijaksana. Ada orang yang selalu mencari kesempatan mendiskreditkan kesuksesan orang lain. Pengungkapan diri berarti mengetahui bagaimana mempresentasikan pandangan Anda yang positif dan cerah. Orang yang dapat melakukan ini sering membuat lingkungan di mana orang lain merasa aman mengungkapkan perasaan diri sendiri. Inilah awal persahabatan yang produktif dan menciptakan sistem pendukung, sinergi tim, kemitraan, produktifitas, dan pemecahan masalah. Sayangnya, banyak organisasi gagal membangun lingkungan bersuasana bisnis yang harmonis, karena orang merasa tidak aman untuk berbagi apa yang mereka pikirkan.
Wawasan
Mampu mengenali pola dalam emosi dan reaksi berarti dapat mengenali kecenderungan tertentu, baik positif atau negatif. Apa yang Anda lakukan dengan pengetahuan ini akan menentukan tingkatan komitmen terhadap perubahan. Seringkali, Anda tidak menyadari cara menaklukkan diri saat menghadapi orang, khususnya ketika menghadapi situasi yang penuh emosi. Semakin terampil mengenali pola respon yang sejenis, semakin bagus Anda dapat mengoreksi atau menyempurnakan. Komplemen wawasan pribadi adalah kapasitas mengenali pola orang lain. Ini dapat memicu perbandingan yang mempermudah menangani kebutuhan emosi orang dan mengetahui bagaimana memecahkan permasalahan.
Tanggung Jawab Pribadi
Memberikan wejangan yang memotivasi merupakan cara menaikkan potensi karyawan dan mengejawantahkan misi organisasi. Bahkan jika tidak ada tindak lanjut pun, cara ini sebetulnya tidak akan mengurangi kekuasaan. Namun, pemimpin akan kehilangan kharisma jika tidak menepati janji. Karyawan dan pelanggan tidak lagi mudah dibodohi dengan retorika dan kharisma. Mereka menginginkan tindakan. Merealisasikan berarti memiliki tanggung jawab pribadi untuk menggapai hasil. Banyak pemimpin sekarang mengharapkan perubahan dan menuntut hasil, tetapi tidak berpartisipasi dalam berusaha dan tidak diperhitungkan dalam menentukan kesuksesan perusahaan. Bos semacam ini perlu umpan balik dan duduk bersama dalam membuat keputusan. Pemimpin sekarang perlu terlibat aktif dan bertanggung jawab terhadap proses pengembangan dan implementasi. Pemimpin yang selalu terlibat aktif dan tertarik ikut andil dalam proses perubahan dan ingin mengetahui bagaimana dampaknya terhadap karyawan biasanya selalu mendambakan hasil yang positif.
Agen Perubahan
Menjadi agen perubahan berarti memacu berbagi gagasan, perasaan, dan informasi yang meningkatkan produktifitas. Dengan demikian membuahkan pemahaman dua arah yang jujur. Dengan perspektif ini, tidak ada konsekuensi negatif untuk berbicara dengan jujur. Membangun kepercayaan merupakan unsur penting dalam berinteraksi. Berbagi perasaan tanpa marah atau menyalahkan orang lain merupakan langkah penting ke arah rekonsiliasi. Dalam berbagai diskusi, debat atau negosiasi, harus ada sinergi emosi untuk menstabilkan suasana hati dan nada pembicaraan. Jika seseorang marah dan berbicara terus tanpa berhenti, peluang menyelesaikan pertentangan atau konflik sangat tipis. Pemimpin otokratis tidak mengijinkan orang lain mengungkapkan pernyataan dengan jujur. Ketika menghadapi orang jenis pemimpin ini, karyawan akan menyembunyikan informasi, mengatakan apa yang menyenangkan dan selalu takut terhadap hasil akhir. Ketidakjujuran semacam ini akan memicu dua masalah yang destruktif. Yakni:
1) Ketika karyawan merasa tidak diberdayakan, mereka tidak efektif dalam memberikan pandangan. Karyawan cenderung takut dan tidak tergoda dengan aktifitas baru atau yang inovatif.
2) Ketika karyawan dirundung stres dan kecemasan, biasanya tidak sehat dan tidak produktif.
Pengembang
Pengembang adalah pembuat konsensus dan pemerjelas pemahaman. Mereka tahu kapan mendengarkan, empati, berbicara, dan memberikan pengarahan. Mereka punya kombinasi yang seimbang antara asertif dan ketenangan. Pengembang percaya bahwa setiap orang punya hak mengungkapkan pendapat dan perbedaan merupakan kualitas positif suatu organisasi.
Pemegang Saham
Pemimpin dengan sikap pemegang saham memberikan karyawan peluang berbagi rasa dalam kesuksesan dan tantangan organisasi. Karyawan diberikan saham beban untuk merealisasikan misi perusahaan dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Pemimpin dengan mental seperti ini tahu bagaimana mendelegasikan dan memberikan peluang kepada karyawan untuk menyumbangkan kreatifitas kepada suatu posisi. Dalam lingkungan semacam ini, orang merasa memiliki perusahaan dan akan bekerja sebaik-baiknya.
Ketrampilan Mengatasi Stres
Ada banyak manfaat dalam kepemimpinan, namun juga banyak tekanan dan stres. Mengatasi kekompleksan masalah, isu, dan tuntutan pemimpin abad 21 memerlukan orang yang tahu bagaimana mengendalikan emosi. Ada empat strategi yang dapat membantu mengendalikan emosi:
1) Meluangkan waktu untuk memeriksa realita perilaku dan sikap. Tanyakan kepada diri sendiri:
“Bagaimana saya memperlakukan karyawan?”
“Bagaimana perasaan saya sekarang, pekerjaan, dan tantangan dalam hidup saya?”
“Apakah saya sering marah?”
“Apakah saya mau mendengarkan?”
“Apakah saya capai?”
“Kapan terakhir kali mengerjakan sesuatu yang benar-benar saya sukai dan yang membuat rileks?”
“Apakah saya menelantarkan keluarga?”
Jika tahu bahwa Anda memberikan tanggapan yang kurang memadai kepada pertanyaan di atas, tibalah saatnya untuk berhenti dan melakukan hal baru. Anda perlu memfokuskan diri dengan sungguh-sungguh dan seksama untuk mengubah perilaku diri sendiri dan cara mendayagunakan waktu. Seringkali, pemimpin bilang tidak punya waktu. Pada kenyataannya, yang menjadi masalah bukan waktu, tetapi prioritas. Jika klien potensial yang bisa mendatangkan keuntungan 4 triliun dollar memanggil Anda pada saat-saat menjelang akhir hari kerja yang sibuk, itulah waktu untuk bertemu dengan klien.
2) Perhatikan kesehatan, keluarga, dan waktu rileks sebagai aset lima triliun dollar yang harus diperhitungkan setiap hari. Ketrampilan yang perlu dimiliki dalam hal ini antara lain:
· dapat mengenali kapan Anda capai dan terlalu banyak beban kerja.
· dapat mengenali emosi dan menyesuaikan perilaku.
· dapat menyisihkan waktu dari tekanan kerja dan dapat rileks.
· dapat percaya kepada teman yang diajak berbicara dan diskusi. Hal ini sulit dilakukan laki-laki, namun sangat penting untuk kondisi tertentu.
· dapat menerima umpan balik dari kolega yang loyal yang bertindak sebagai barometer dalam menghadapi tekanan kerja. Sebagian karyawan sangat pintar menyesuaikan suasana hati pemimpin. Pengetahuan karyawan semacam ini sangat membantu bos dalam memberikan ruang gerak restrukturisasi kelompok.
3) Mengurangi tekanan yang dibebankan kepada diri sendiri. Seringkali jabatan pemimpin menjadi musuh terburuk bagi diri sendiri. Dorongan meraih jabatan yang ia pegang sama dengan dorongan mempelantingkan dirinya ke spiral pribadi yang melengkung ke bawah. Tujuan utama pemimpin seharusnya menjaga keseimbangan antara waktu pribadi dan profesional. Ingin tetap di puncak atau tetap memegang tampuk pimpinan dapat menjadi masalah jika Anda tidak berhati-hati dengan konsekuensi terhadap emosi dalam diri manusia. Banyak pemimpin sekarang meninggalkan posisi papan atas di perusahaan multinasional karena alasan pribadi. Adalah lebih baik mempersiapkan diri menghadapi masalah daripada melakukannya nanti setelah masalah merebak. Sukses akan berdampak fatal kepada pemimpin, jika perhatian yang memadai tidak dicurahkan untuk menjaga keseimbangan.
4) Belajar mengenali kapan cangkir Anda penuh dan bertindak seperlunya.
Pemahaman diri dapat membantu mengidentifikasi perasaan. Mendengarkan suara hati dapat memberitahu Anda kapan menghadapi bahaya atau kondisi kritis. Ketika Anda merasa bahwa orang dan masalah membuat frustasi, marah dan mengganggu ekuilibrium, lebih baik mundurlah selangkah untuk menghela napas, daripada harus berkonfrontasi dengan orang pertama yang Anda hadapi. Menyadari perasaan diri sendiri ketika stress merupakan salah satu cara menghindari perilaku yang tidak perlu, yang dapat melukai hati orang lain.
Ekspresi
Pernyataan “Bukan apa yang Anda katakan, tetapi bagaimana Anda mengatakan bahwa sesuatu selalu diperhitungkan” memang benar adanya. Apa yang Anda katakan bias membuat perbedaan hubungan antar pribadi. Misalnya, jika Anda memberitahu karyawan bahwa ia dipecat, apa pun nada Anda dalam mengucapkan kalimat ini, maknanya masih sama. Bentuk ungkapan, derajat empati, dan pertimbangan terhadap seseorang dapat membuat respon orang lain berbeda. Contoh pernyataan EQ:
“Adalah sulit bagi saya untuk mengatakan Anda demikian —meskipun kita menghargai karya dan pengabdian Anda di masa lalu. Sayangnya, berhubung proyek ini kurang dana, kami tidak dapat mempertahankan gaji Anda. Kami terpaksa harus mencari kemungkinan lain. Namun usaha kami sia-sia sehingga terpaksa kami meniadakan posisi Anda. Saya akan dengan senang hati membantu Anda mencari pekerjaan lain dan akan mengupayakan memberikan surat rekomendasi seperlunya.”
Bagaimana Anda mengekspresikan diri bagaikan es di atas kue dan dapat menjadi faktor penentu apakah sukses atau gagal dalam menghadapi situasi sulit. Ungkapan terima kasih yang singkat dan tulus atas darma bakti karyawan dalam bentuk tawaran memberikan rekomendasi memungkinkan karyawan tahu bahwa keputusan tidak dapat dihindari dan Anda sangat menaruh perhatian terhadapnya. Bahkan memperingatkan kepada karyawan atas perbuatannya yang tidak pantas masih dapat dilakukan tanpa merusak karakter orang yang masih dalam proses.
Ketegasan dan pengarahan dapat diterapkan ketika mempertimbangkan perasaan karyawan. Cara yang positif untuk mengungkapkan perasaan adalah dengan berikut ini:
· menghargai seseorang
· empati terhadap situasi
· memfokuskan pada masalah, bukan pada pribadi
· jelas dan jujur
· mengalokasikan waktu untuk menerima umpan balik dari seseorang
Puisi dan drama selalu dimulai dengan kata-kata yang ditulis di suatu halaman. Apa yang membuatnya tampak hidup adalah emosi yang dimainkan dan penyesuaian perasaan antar orang. Demikian juga dalam kehidupan. Cara kita mengungkapkan diri sendiri membayangi pesan yang disampaikan. Bagi pemimpin, bentuk ekspresi yang digunakan untuk menghadapi orang sangat penting, khususnya terhadap citra dan jenis organisasi yang ingin dibangun. Pilihan kata sepenting ekspresi. Perpaduan yang selaras antara kedua pihak merupakan keharusan dalam membuat pemimpin EQ.
Menjinakkan Anomi Perusahaan
Anomi dalam organisasi diukur dengan indikator licik yang menunjukkan bahwa ada cacat tujuan, identitas, nilai, dan kondisi yang menyebabkan kekurangan atau kegagalan dalam menjalankan tugas. Anomi mungkin terkesan seperti zona perang. Tetapi anomi semakin menjadi-jadi di berbagai jenjang organisasi dewasa ini. Visi atau nilai inti yang tidak dijunjung bersama punya makna yang tak berarti bagi orang yang bukan memberikan otoritas kepadanya. Kode etik yang universal tidak akan berlaku jika selalu tidak dijadikan rujukan. Akar dari semua permasalahan adalah jenjang kepemimpinan di mana masalah seringkali muncul.
Menjinakkan anomi perusahaan berarti:
Memimpin dengan konsisten, jujur, dan penuh integritas.
berbagi visi jenis lingkungan yang harus ada untuk semua karyawan dan yang akan dipakai untuk merealisasikan misi perusahaan.
mencontoh jenis perilaku yang dapat diterima dan menunjukkan bagaimana menghindari perilaku perusahaan yang menyimpang.
membangun tim yang sinergis di mana harmonisasi emosi dan sudut pandang digalakkan dan konsensus dapat dibuat.
menciptakan nilai inti yang sesuai dengan aspirasi individu.
menciptakan sistem pemeriksa dan penyeimbang pengatur emosi sehingga marah, intimidasi, balas dendam, dan tidak hormat, tidak akan tumbuh subur.
Harmoni
Karakteristik kepemimpinan EQ adalah mau menciptakan harmoni di tempat kerja. Artinya, di setiap jenjang terdapat:
hubungan dan persetujuan bagaimana setiap orang diperlakukan.
peluang untuk interaksi profesional dan pribadi.
proses tim untuk menyalurkan aspirasi pribadi dan tujuan profesional.
prosedur resolusi yang mengkaitkan pekerjaan untuk membuat konsensus.
berbagi tanggung jawab misi dan nilai dalam organisasi.
Pengertian menciptakan harmoni adalah salah satu usaha paling penting dalam organisasi, namun sering diabaikan. Menciptakan harmoni merupakan tugas yang paling sulit dicapai karena ada perbedaan agenda, kepribadian, kebutuhan, dan tantangan. Meski perlu usaha dan konsentrasi untuk menciptakan atmosfir yang harmonis, usaha menciptakan keharmonisan merupakan tujuan paling mulia. Ketika ada harmonisasi, lingkungan kerja bagaikan lingkungan yang mengagumkan. Di mana semua usaha dinamis menyatu untuk menggapai kebaikan bersama. Tidak ada satu bintang, tetapi banyak bintang individu yang menambahkan bakat ke pengembangan mega bintang (superstar) yang mengejawantahkan kesuksesan organisasi.
V. KESIMPULAN
Sesudah kita mempelajari model-model kepemimpinan yang dimiliki oleh para pemimpin jaman ini, kita memiliki satu kesimpulan umum yaitu bahwa para pemimpin harus mampu menghadapi segala situasi organisasi tidak hanya dengan kemampuan intelektual, tetapi lebih dari itu dengan kemampuan dan kecerdasan emosional, yang berarti mampu memahami perasaan-perasaan peribadi yang dikelola secara matang dan dewasa, dan mamupu memhami orang lain dengan segala aspek kehidupan yang mengitarinya.
Dalam hubungan dengan kasus yang ditugaskan kepada kelompok kami, kami lebih cenderung mendekatinya dengan pendekatan EQ. Menggunakan kecerdasan emosional untuk mengatasi situasi yang kelihatan sulit dan membebankan. Beberapa hal yang bisa kami tawarkan sbagai solusi mengatasi situasi:
· Tetap mempertahankan sikap profesional dalam tutur kata dan perilaku terhadap semua karyawan termasuk yang dianggap “sulit.”
· Hindari situasi di mana ada konfrontasi muka ke muka.
· Hindari diri dari memberi penghakiman atas laporan orang lain.
· Pertahankan usaha Anda dalam melayani secara merata dan penuh tanggung jawab.
· Hindari kata-kata yang kedengaran mempersalahkan.
· Mendengarkan dengan saksama semua karyawan secara merata.
· Fokus pada pelayanan anda dan bukan kepada situasi sulit.
· Birkan “orang sulit” itu tahu bahwa Anda menghargai mereka lewat kata dan tindakan.
· Tetap mempertahankan kehangatan hubungan yang ada.
· Ungkapkan kegembiraan dan apresiasi terbuka secara wajar dan realistis.
· Jangan menunjukkan rasa takut atau kecut anda di depan “orang sulit itu.”
· Tunjukkan ketulusan dalam memimpin.
· Tunjukkan rasa percaya diri dan kemampuan anda dalam segala tugas dan tanggung jawab anda.
· Terkadang meminta pendapat dan menghargai pendapat “orang sulit” itu untuk memberikan perhatian dan rasa penting kepada mereka.
· Bersikaplah dewasa dan tunjukkan profesionalisme dalam bekerja.
Ada begitu banyak kemungkinan yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap orang-orang yang masuk dalam kategori “orang sulit.” Hal ini akan berjalan secara wajar dan alamish, jika seorang pemimpin terlebih dahulu mengembangkan kemampuan atau kecerdasan emosionalnya secara efektif. Dengan kecerdasan emosional, seorang pemimpin berani menghadapi situasi apa pun dalam seluruh proses memimpin dan membimbing.
Semoga karya sederhana ini bermanfaat bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin yang sukses. Terimakasih.


No comments:
Post a Comment